Skip to main content

Pengertian Al-Qur'an dan Sunah

Kita tentunya sering mendengar bahwa sumber ajaran agama islam adalah Al-Qur’an dan Sunah. Namun sesungguhnya apa yang dimaksud dengan Al-Qur’an dan Sunah itu sendiri?

Pengertian Al-Qur’an telah dikemukakan secara lengkap oleh Abd. Al-Wahhab Al-Khalaf. Menurutnya, Al-Qur’an adalah “firman Allah yang diturunkan kepada Rasulullah SAW., melalui Jibril dengan menggunakan lafaz bahasa Arab, menjadi undang-undang (aturan) bagi manusia, memberi petunjuk kepada mereka, dan menjadi sarana untuk melakukan pendekatan diri dan ibadah kepada Allah. Ia terhimpun dalam mushaf, dimulai dari surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat An-Naas, disampaikan kepada kita secara mutawatir dari generasi ke generasi, baik secara lisan maupun tulisan, serta terjaga dari perubahan dan pergantian.”

Dari kutipan di atas, Aam Amiruddin menyimpulkan bahwa Al-Qur’an adalah kitab suci yang isinya mengandung firman Allah, turunnya secara bertahap melalui malaikat Jibril, pembawanya Nabi Muhammad SAW., susunannya dimulai dari surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat An-Naas, membacanya bernilai ibadah, fungsinya antara lain menjadi hujjah atau bukti yang kuat atas kerasulan Muhammad SAW., keberadaannya hingga kini masih tetap terpelihara dengan baik, dan pemasyarakatannya dilakukan secara berantai dari satu generasi ke generasi lain dengan tulisan maupun lisan.


Al-Qur’an diyakini berasal dari Allah dan mutlak benar, yang membuat Al-Qur’an menjadi sumber ajaran islam yang paling utama. Keberadaan Al-Qur’an sangat dibutuhkan oleh manusia. Sebab manusia dengan berbagai keterbatasan yang dimilikinya tidak dapat bahkan tidak mampu memecahkan berbagai masalah yang dihadapinya. Maka dari itu, Al-Qur’an berfungsi sebagai konfirmasi dan informasi terhadap hal-hal yang tidak dapat diketahui oleh akal/pikiran manusia. Karena di dalam Al-Qur’an sendiri terkandung petunjuk-petunjuk hidup tentang berbagai hal walaupun petunjuk tersebut terkadang bersifat umum yang masih memerlukan/menghendaki penjabaran dan perincian oleh ayat lain maupun Sunah sendiri.

Disamping itu, Al-Qur’an juga berfungsi sebagai hakim atau wasit yang mengatur jalannya kehidupan manusia agar berjalan lurus. Itulah sebabnya kita sebagai umat islam berselisih akan suatu urusan, maka hendaknya ia berhakim kepada Al-Qur’an. Namun pada kenyataannya, masih saja manusia terutama umat muslim tidak memerhatikan ayat-ayat Al-Qur’an sebagai hakim.

Al-Qur’an pun telah berperan sebagai pengontrol dan pengoreksi terhadap ajaran-ajaran masa lalu. Yang mana kita bisa menemukan dalam Al-Qur’an, ayat-ayat koreksi yang ditujukan pada penyipangan-penyimpangan yang terjadi dalam kitab suci sebelum Al-Qur’an yaitu Injil, Zabur, dan Taurat.

Berlanjut ke sumber ajaran islam yang kedua, yaitu Sunah. Secara kebahasaan, As-Sunah berarti jalan hidup yang dibiasakan, terkadang jalan tersebut ada yang baik dan ada pula yang buruk. Pengertian Sunah secara kebahasaan ini sejalan dengan hadts Nabi yang artinya:

“Barangsiapa yang membuat sunah (kebiasaan) yang terpuji, maka pahala bagi yang membuat sunah itu dan pahala bagi orang yang mengerjakannya; dan barangsiapa yang membuat sunah yang buruk, maka dosa bagi yang membuat sunah yang buruk itu dan dosa bagi orang yang mengerjakannya,” (H.R. Muslim)

Sementara itu, ulama Ushul Fiqih mengartikan sunah sebagai sesuatu yang berasal dari Nabi Muhammad SAW. dalam bentuk ucapan, perbuatan, dan persetujuan beliau yang berkaitan dengan hukum. Pengertian ini didasarkan pada pandangan mereka yang menempatkan Nabi Muhammad SAW. sebagai pembuat hukum. Dan dengan pengertian ini, saya rasa sunah terkadang kita gantikan namanya dengan hadits (Al-Hadits).

Sebagaimana telah banyak orang yang melakukan studi tentang Al-Qur’a, telah banyak pula dari kalangan ulama yang melakukan studi tentang Sunah, baik dari segi kandungan, kualitas, tingkatan, latar belakang sejarah dan sosial mengenai timbulnya ilmu-ilmu maupun yang berkaitan dengan cara-cara memahaminya, menelitinya, dan sebagainya.

Di antara ulama sendiri ada yang meneliti hadits dari segi kandungan, kualitas, dan tingkatannya. Ialah Imam Bukhari dan Imam Muslim. Selanjutnya, ada pula dari kalangan ulama yan mengkhususkan diri melakukan pembahasan atas dasar-dasar penelitian dan penilaian sanad hadits seperti halnya yang dilakukan oleh Mahmud Thahan dalam bukunya yang berjudul Ushul Al Takhrij wa Dirasah Al Asanid. Ahmad Muhammad Syakir telah menulis kitab Al-Ba’it Al-Hadis yang merupakan Syarah atas kitab Ikhtisar Ilmu Hadis yang ditulis oleh Hafidz Ibn Katsir. Selanjutnya Muhammad Ghazali secara khusus telah membahas kedudukan sunah menurut pandangan ahli fikih dan ahli hadis yang dituangkan dalam bukunya yang berjudul As-Sunnah Al Nabawiyah bain Ahl Al Fiqh wa Al Hadis. Sebelum itu, Al Hafidz Zain ad-Din Abd. Rahim bin Husain al-Iraqy  telah menulis kitab yang berjudul Taqyid wa Idhah Syarah Muqaddimah ibn Shalah pada tahun 806. Di dalam kitab tersebut, telah dibahas secara panjang lebar macam-macam hadis dan berbagai hal yang berkaitan dengannya.

Keberadaan Sunah tidak bisa dilepaskan dari adanya sebagian ayat Al-Qur’an yang bersifat global yang memerlukan perincial, yang berisifat umum, yang menghendaki pengecualian, dan yang bersifat mutlak yang menghendaki pembatasan, dan ada pula isyarat Al-Qur’an yang mengandung makna lebih dari satu yang menghendaki penetapan makna yang akan dipakai, bahkan terdapat sesuatu yang secara khusus tidak dijumpai keterangannya di dalam Al-Qur’an yang selanjutnya diserahkan kepada Sunah.

Dalam kaitan ini, Sunah berfungsi merinci petunjuk dan isyarat Al-Qur’an yang bersifat global, sebagai peyecuali terhadap isyarat Al-Qur’an yang bersifat umum, sebagai pembatas terhadap ayat Al-Qur’an yang bersifat mutlak, dan sebagai pemberi informasi terhadap sesuatu kasus yang tidak dijumpai di dalam Al-Qur’an. Dengan posisinya yang demikian itulah, pemahaman Al-Qur’an dan juga pemahaman ajaran islam yang seutuhnya tidak dapat dilakukan tanpa mengikutsertakan Sunah.

Pada kesimpulannya, Al-Qur’an dan Sunah bagaikan dua sisi dari satu mata uang, dimana kedua-duanya harus ada. Kita tidak mungkin bisa mengamalkan Al-Qur’an secara mendetil tanpa Sunah, karena itulah kita harus mengimani Al-Qur’an dan Sunah sebagai sumber ajaran islam. Dan hal itu adalah suatu keharusan bagi setiap muslim. Wallahu A’lam.

Sumber

Dikutip dengan beberapa pengubahan dari buku Bedah Masalah Kontemporer - Ibadah dan Muamalah.

Comments

Popular posts from this blog

Sejarah Kerajaan Gowa, Kerajaan Gowa-Tallo, Hingga Kesultanan Makassar

Sebelum Islam datang, Kerajaan Gowa telah berdiri dengan Tomanurung sebagai raja pertama. Namun, tak banyak catatan sejarah yang menyebutkan perjalanan kerajaan tersebut.

Kapan tepatnya berdiri kerajaan pun tak ada data sejarah yang mengabarkan. Menurut Prof Ahmad M Sewang dalam Islamisasi Kerajaan Gowa: Abad XVI Sampai Abad XVII, Kerajaan Gowa diperkirakan berdiri pada abad ke-14.

Sebelum kerajaan tersebut berdiri, kawasannya sudah dikenal dengan nama Makassar dan masyarakatnya disebut dengan suku Makassar. Wilayah ini pun pernah menjadi bagian kekuasaan Majapahit.

Gowa dan Tallo pra-Islam merupakan kerajaan kembar milik dua bersaudara. Berawal di pertengahan abad ke-16, pada masa pemerintahan Gowa IV Tonatangka Lopi, ia membagi wilayah Kerajaan menjadi dua bagian untuk dua putranya, Batara Gowa dan Karaeng Loe ri Sero. Hal ini dikarenakan kedua putranya sama-sama ingin berkuasa.

Batara Gowa melanjutkan kekuasaan sang ayah yang meninggal dunia dengan memimpin Kerajaan Gowa sebagai R…

4 Partai Pemenang Pemilu Pertama Indonesia 1955

Pemilu pertama Indonesia pada tahun 1955 memunculkan 4 partai besar pemenang. Empat partai tersebut adalah Partai Nasionalis Indonesia (PNI), Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), Nahdatul Ulama, dan Partai Komunis Indonesia (PKI).


Adapun perolehan kursi hasil pemilihan umum pertama 1955 adalah sebagai berikut.

PEMILU UNTUK ANGGOTA DPR (29 SEPTEMBER 1955)

Partai Nasionalis Indonesia (PNI) : 57 kursi
Partai Masyumi : 57 kursi
Partai Nahdatul Ulama : 45 kursi
Partai Komunis Indonesia (PKI) : 39 kursi

PEMILU UNTUK KONSTITUANTE (15 DESEMBER 1955)

Partai Nasionalis Indonesia (PNI) : 119 kursi
Partai Masyumi : 112 kursi
Partai Nahdatul Ulama : 91 kursi
Partai Komunis Indonesia (PKI) : 80 kursi

Sumber
BSE Kemendikbud Sejarah Indonesia Kelas XII SMA.

Sumber gambar : saga-sigi.blogspot.com

Program Ekonomi Gerakan Asaat

Apa yang dimaksud dengan Gerakan Asaat?

Gerakan Asaat adalah sebuah program ekonomi pemerintah Indonesia tahun 1950an yang dilakukan untuk meningkatkan produktivitas pengusaha pribumi. Gerakan Asaat memberikan perlindungan khusus bagi warga negara Indonesia Asli dalam segala aktivitas usaha di bidang perekonomian dari persaingan dengan pengusaha asing pad aumumnya dan warga keturuan Cina pada khususnya.


Dukungan dari pemerintah terhadap gerakan ini terlihat dari pernyataan yang dikeluarkan pemerintah pada Oktober 1956 bahwa pemerintah akan memberikan lisensi khusus pada pengusaha pribumi. Ternyata kebijakan pemerintah ini memunculkan reaksi negatif yaitu muncul golongan yang membenci kalangan Cina. Bahkan reaksi ini sampai menimbulkan permusuhan dan pengrusakan terhadap toko-toko dan harta benda milik masyarakat Cina serta munculnya perkelahian antara masyarakat Cina dan masyarakat pribumi.

Sumber
BSE Kemendikbud Sejarah Indonesia Kelas XII SMA.

Sumber gambar : www.kaskus.co.id