Skip to main content

Sudut Pandang Pada Teks Cerpen

Sudut pandang atau pusat pengisahan merupakan unsur cerita yang berkaitan dengan bagaimana peran seorang pengarang (narator) dalam menyampaikan ceritanya. Sudut pandang dalam teks narasi (teks cerpen termasuk teks narasi) terdiri atas sudut pandang orang pertama dan orang ketiga.


Sudut Pandang Orang Pertama

Sudut pandang orang pertama memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1 | Menggunakan kata ganti orang pertama. Contohnya aku, saya, atau kami.
2 | Pengarang tampil menyampaikan kisah yang dialami sendiri. Contohnya: "Selama berada di Jakarta, kami mendapat pengalaman yang sangat menyenangkan...."

Sudut pandang orang pertama dibagi menjadi dua jenis: orang pertama sebagai pelaku utama dan orang pertama sebagai pengamat

Orang Pertama sebagai Pelaku Utama
Pada jenis ini, pengarang terlibat langsung dalam menyampaikan kisahnya dan berperan langsung sebagai tokoh utama. Dengan kata lain, orang pertama mengisahkan dirinya sendiri.

Contoh teks :
Aku mulai mempersiapkan perkawinanku. Bahan kebaya mulai kupilih dan kuatur warna pemakaiannya dangan kain-kain yang serasi. Saputro memberiku sejumlah uang untuk memperlengkapi keperluan lain. Surat-surat mulai kami urus. Saputro mengirim surat kepada kakakku yang sulung mengenai rencana kami. (Pada Sebuah Kapal, Nh. Dini)

Tokoh Aku pada kutipan cerita tersebut mengisahkan dirinya sendiri.

Orang Pertama sebagai Pengamat
Pada jenis ini, pengarang terlibat langsung dalam menyampaikan cerita yang melibatkan dirinya, tetapi bukan sebagai tokoh utama, melainkan hanya berperan sebagai pengamat langsung. Jadi, orang pertama mengisahkan tokoh lain.

Contoh:
Inilah terakhir kulihat Sersan Husni ketika muncul di rumah lepas isya dan lenyap tatkala langit gelap seperti karbon. Sudah tiga bulan ia bertemu. Air mukanya lebih garang ketimbang semula. Mengingatkan aku kepada mandor tebu perkebunan Colomadu yang pernah mengusir kami sehingga berhamburan.

Ibu tidak lupa akan nazarnya, potong ayam andaikata sersan selamat tidak kurang suatu apa. Oleh sebab kedatangannya yang tiba-tiba, nazar itu sedikit mengalami perubahan. Bukan potong ayam, melainkan beli daging ayam. Bagiku hampir tak ada bedanya. (Dari Hari ke Hari, M. Mahbub Djunaedi)

Tokoh Aku pada kutipan cerita tersebut penyampai kisah. Tokoh Husni merupakan tokoh yang dikisahkan.

Sudut Pandang Orang Ketiga

Sudut pandang orang ketiga memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1 | Menggunakan kata ganti orang ketiga seperti ia, dia, mereka, atau nama tokoh.
2 | Pengarang tidak tampil langsung dalam menyampaikan kisah, akan tetapi menghadirkan tokoh lain sebagai pengisah, misalnya, "Selama berada di Jakarta, mereka mendapat pengalaman yang menyenangkan...." Jadi, kedudukan pengarang hanya sebagai penonton.

Sudut pandang orang ketiga terbagi menjadi dua jenis: orang ketiga serba tahu dan orang ketiga terarah.

Orang Ketiga Serba Tahu (Paranomik)
Pada jenis ini, pengarang melaporkan semua aspek dari suatu kisah. Ia melaporkan semua karakter, ruang, dan apa saja yang menarik perhatian dan sesuai dengan cerita.

Contoh:
Diperiksanya sekali lagi, lebih cermat, lebih teliti. Hasil pemikirannya seperti tadi juga. Sehat. Heran, Ajaib. Terpikir ia, jika pakai ilmu psykiatrinya, amat boleh jadi Kus nin sakit buat-buatan agar orang belas kasihan atau ada maksud tersembunyi. Perihal Kus ia telah mengenalnya bertahun-tahun. Dahulu Kus menjadi pelajar Sekolah Hakim Tinggi, baru Kandidat II. Ia seorang yang lekas goncang pendiriannya, kurang teguh. (Radio Masyarakat, Rosihan Anwar)

Tokoh Ia (Dokter) dalam cerita tersebut mengetahui segala hal tentang Kus.

Orang Ketiga Terarah
Pada jenis ini, pengarang tidak melaporkan semua aspek, tetapi memusatkan perhatian pada satu karakter yang berhubungan dengan cerita.

Contoh:
Suwarni bernyanyi. Suaranya halus, tenang, mengurai kesunyian. Ia bernyanyi seraya berjalan lambat-lambat. Nyanyian yang memancar dari lubuk hatinya; berirama mesra seorang ibu. Suwarni sedang menidurkan anaknya. Suaranya menggenang di udara. Membelai si kecil di dadanya. Sehingga tangan kecil montok itu tidak lagi bergerak-gerak. ... Suwarni melihat kepada anaknya. Tak puas-puas ia memandangi tubuh yang kecil-montok-jenaka itu. Rambutnya lemas, kehitam-hitaman warnanya.

Pada kutipan cerita tersebut, pengisah memusatkan perhatian kepada Suwarni.

Sumber

Disarikan dari buku Sobandi, Mengasah Kemampuan Diri, Tahun 2014, Penerbit Erlangga.

Sumber gambar : miftagv.wordpress.com

Hak cipta karya sepenuhnya ada pada penulis dan penerbit bersangkutan. Disini hanya sebatas mendokumentasikan dan mendiskusikan dengan harapan dapat menjadi input berharga bagi pihak-pihak terkait.

Comments

  1. Terima kasih atas informasi dan artikel kerennya. kami dari agen AgaricPro yang sudah terbukti ampuh mampu menyembuhkan penyakit pneumonia, akan menawarkan Obat Pneumonia Tradisional Pada Anak dan Balitadan juga Obat Pneumonia Pada Orang Dewasa dan Ibu Hamil. Terima kasih atas informasi dan juga artikelnya sehingga menambah ilmu untuk kami.
    Terima Kasih

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sejarah Kerajaan Gowa, Kerajaan Gowa-Tallo, Hingga Kesultanan Makassar

Sebelum Islam datang, Kerajaan Gowa telah berdiri dengan Tomanurung sebagai raja pertama. Namun, tak banyak catatan sejarah yang menyebutkan perjalanan kerajaan tersebut.

Kapan tepatnya berdiri kerajaan pun tak ada data sejarah yang mengabarkan. Menurut Prof Ahmad M Sewang dalam Islamisasi Kerajaan Gowa: Abad XVI Sampai Abad XVII, Kerajaan Gowa diperkirakan berdiri pada abad ke-14.

Sebelum kerajaan tersebut berdiri, kawasannya sudah dikenal dengan nama Makassar dan masyarakatnya disebut dengan suku Makassar. Wilayah ini pun pernah menjadi bagian kekuasaan Majapahit.

Gowa dan Tallo pra-Islam merupakan kerajaan kembar milik dua bersaudara. Berawal di pertengahan abad ke-16, pada masa pemerintahan Gowa IV Tonatangka Lopi, ia membagi wilayah Kerajaan menjadi dua bagian untuk dua putranya, Batara Gowa dan Karaeng Loe ri Sero. Hal ini dikarenakan kedua putranya sama-sama ingin berkuasa.

Batara Gowa melanjutkan kekuasaan sang ayah yang meninggal dunia dengan memimpin Kerajaan Gowa sebagai R…

4 Partai Pemenang Pemilu Pertama Indonesia 1955

Pemilu pertama Indonesia pada tahun 1955 memunculkan 4 partai besar pemenang. Empat partai tersebut adalah Partai Nasionalis Indonesia (PNI), Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), Nahdatul Ulama, dan Partai Komunis Indonesia (PKI).


Adapun perolehan kursi hasil pemilihan umum pertama 1955 adalah sebagai berikut.

PEMILU UNTUK ANGGOTA DPR (29 SEPTEMBER 1955)

Partai Nasionalis Indonesia (PNI) : 57 kursi
Partai Masyumi : 57 kursi
Partai Nahdatul Ulama : 45 kursi
Partai Komunis Indonesia (PKI) : 39 kursi

PEMILU UNTUK KONSTITUANTE (15 DESEMBER 1955)

Partai Nasionalis Indonesia (PNI) : 119 kursi
Partai Masyumi : 112 kursi
Partai Nahdatul Ulama : 91 kursi
Partai Komunis Indonesia (PKI) : 80 kursi

Sumber
BSE Kemendikbud Sejarah Indonesia Kelas XII SMA.

Sumber gambar : saga-sigi.blogspot.com

Program Ekonomi Gerakan Asaat

Apa yang dimaksud dengan Gerakan Asaat?

Gerakan Asaat adalah sebuah program ekonomi pemerintah Indonesia tahun 1950an yang dilakukan untuk meningkatkan produktivitas pengusaha pribumi. Gerakan Asaat memberikan perlindungan khusus bagi warga negara Indonesia Asli dalam segala aktivitas usaha di bidang perekonomian dari persaingan dengan pengusaha asing pad aumumnya dan warga keturuan Cina pada khususnya.


Dukungan dari pemerintah terhadap gerakan ini terlihat dari pernyataan yang dikeluarkan pemerintah pada Oktober 1956 bahwa pemerintah akan memberikan lisensi khusus pada pengusaha pribumi. Ternyata kebijakan pemerintah ini memunculkan reaksi negatif yaitu muncul golongan yang membenci kalangan Cina. Bahkan reaksi ini sampai menimbulkan permusuhan dan pengrusakan terhadap toko-toko dan harta benda milik masyarakat Cina serta munculnya perkelahian antara masyarakat Cina dan masyarakat pribumi.

Sumber
BSE Kemendikbud Sejarah Indonesia Kelas XII SMA.

Sumber gambar : www.kaskus.co.id