Ketik sesuatu lalu tekan enter

author photo
By On
Pengelompokkan suatu zat kedalam golongan asam, basa, ataupun netral telah menjadi sebuah hal wajib dalam kehidupan saat ini. Hal tersebut tidak lain karena perbedaan fungsi zat golongan asam, basa, dan netral dalam kehidupan sehari – hari.

Disamping itu, kelompok telah melakukan sebuah kegiatan praktikum yang mencoba mengelompokkan zat – zat uji kedalam golongan asam, basa, ataupun netra. Maka dari itu, dirasa penting untuk melaporkan hasil pengamatan kelompok yang dikaitkan dengan berbagai teori tentang pengelompokkan asam, basa, dan netral.

RUMUSAN MASALAH

1.    Apa yang dimaksud dengan asam, basa, dan netral?
2.    Bagaimana pendapat para ahli mengenai perbedaan asam dan basa?
3.    Bagaimana pengelompokkan asam, basa, dan netral terhadap bahan uji pada praktikum yang telah dilaksanakan?

TUJUAN

1.    Mengetahui apa yang dimaksud dengan asam, basa, dan netral.
2.    Mengetahui pendapat para ahli mengenai perbedaan asam dan basa.
3.    Mengetahui pengelompokkan asam, basa, dan netral terhadap bahan uji pada praktikum yang telah dilaksanakan.

ASAM, BASA DAN NETRAL

Asam dan basa sudah dikenal sejak zaman dulu. Istilah asam (acid) berasal dari bahasa Latin acetum yang berarti cuka. Istilah basa (alkali) berasal dari bahasa Arab yang berarti abu. Basa digunakan dalam pembuatan sabun. Juga sudah lama diketahui bahwa asam dan basa saling menetralkan. Di alam, asam ditemukan dalam buah-buahan, misalnya asam sitrat dalam buah jeruk berfungsi untuk memberi rasa limun yang tajam. Cuka mengandung asam asetat, dan asam tanak dari kulit pohon digunakan untuk menyamak kulit. Asam mineral yang lebih kuat telah dibuat sejak abad pertengahan, salah satunya adalah aqua forti (asam nitrat) yang digunakan oleh para peneliti untuk memisahkan emas dan perak.


TEORI ASAM DAN BASA

TEORI ARRHENIUS
Pada tahun 1884, Svante Arrhenius (1859-1897) seorang ilmuwan Swedia yang memenangkan hadiah nobel atas karyanya di bidang ionisasi, memperkenalkan pemikiran tentang senyawa yang terpisah atau terurai menjadi bagian ion-ion dalam larutan. Dia menjelaskan bagaimana kekuatan asam dalam larutan aqua (air) tergantung pada konsentrai ion-ion hidrogen di dalamnya.


Menurut Arrhenius, asam adalah zat yang dalam air melepakan ion H+, sedangkan basa adalah zat yang dalam air melepaskan ion OH–. Jadi pembawa sifat asam adalah ion H+, sedangkan pembawa sifat basa adalah ion OH–. Asam Arrhenius dirumuskan sebagai HxZ, yang dalam air mengalami ionisasi sebagai berikut.
HxZ ⎯⎯→ x H+ + Zx–

Jumlah ion H+ yang dapat dihasilkan oleh 1 molekul asam disebut valensi asam, sedangkan ion negatif yang terbentuk dari asam setelah melepaskan ion H+ disebut ion sisa asam. Beberapa contoh asam dapat dilihat pada tabel 5.1.


Basa Arrhenius adalah hidroksida logam, M(OH)x, yang dalam air terurai sebagai berikut.
M(OH)x ⎯⎯→ Mx+ + x OH–

Jumlah ion OH– yang dapat dilepaskan oleh satu molekul basa disebut valensi basa. Beberapa contoh basa diberikan pada tabel 5.2.


Asam sulfat dan magnesium hidroksida dalam air mengion sebagai berikut.
H2SO4 ⎯⎯→ 2 H+ + SO42–
Mg(OH)2 ⎯⎯→ Mg+ + 2 OH–

TEORI BRONSTED DAN LOWRY
Pada tahun 1923, Johannes Nicolaus Bronsted, seorang kimiawan dari Danmark dan Thomas Martin Lowry, yang juga seorang kimiawan dari Amerika Serikat mendefinisikan tentang asam basa.  Menurut Bronsted dan Lowry, asam adalah spesi yang memberikan (donor) proton, sedangkan basa adalah spesi yang bertindak sebagai penerima proton dalam suatu reaksi transfer proton.

Bronsted
Lowry

Teori Bronsted dan Lowry melengkapi konsep asam basa Arrhenius. Ion hidroksida dalam teori Arrhenius tetap menjadi asam dalam teori Bronsted dan Lowry.  Ion hidroksida ini menerima ion hydrogen membentuk H¬2O.  Teori Bronsted dan Lowry ini memiliki keleman tidak dapat menjelaskan reaksi asam basa yang tidak melibatkan transfer proton.

TEORI LEWIS
Pada tahun 1923, Gilbert N. Lewis seorang kimiawan dari Amerika Serikat mendfinisikan asam basa berdasarkan teori ikatan kimia. Menurut Lewis, asam adalah penerima (akseptor) pasangan electron bebas.  Sementara itu, basa adalah pemberi atau donor pasangan electron bebas.


Teori asam basa lewis lebih luas pengertiaannya dibandingkan dengan dua teori sebelumnya. Spesi apapun yang dapat menerima pasangan electron bebas disebut asam Lewis. Contoh asam Lewis yaitu H+, B2H6, BF6, AlF6, Fe2+, Cu2+, dan Zn2+.  Suatu spesi tidak selalu menyediakan orbital kosong untuk menjadi asam Lewis.

Spesi beruba molekul atau ion yang mendonorkan pasangan electron bebasnya disebut basa Lewis. Contoh ion halide (Cl-, F-, Br- dan I-), NH3, OH-, H2O senyawa yang mengandung unsure N, O atau S senyawa golongan eter, keton dan CO2.

KEKUATAN ASAM DAN BASA

KEKUATAN ASAM
Kekuatan asam dipengaruhi oleh banyaknya ion – ion H+ yang dihasilkan
oleh senyawa asam dalam larutannya. Berdasarkan banyak sedikitnya ion H+
yang dihasilkan, larutan asam dibedakan menjadi dua macam sebagai berikut.

Asam Kuat
Asam kuat yaitu senyawa asam yang dalam larutannya terion seluruhnya
menjadi ion-ionnya. Reaksi ionisasi asam kuat merupakan reaksi
berkesudahan. Secara umum, ionisasi asam kuat dirumuskan sebagai berikut.
HA(aq) ⎯⎯→ H+(aq) + A–(aq)


Asam Lemah
Asam lemah yaitu senyawa asam yang dalam larutannya hanya sedikit
terionisasi menjadi ion-ionnya. Reaksi ionisasi asam lemah merupakan reaksi
kesetimbangan.

Secara umum, ionisasi asam lemah valensi satu dapat dirumuskan
sebagai berikut.
HA(aq) ←⎯⎯⎯⎯→ H+(aq) + A–(aq)

Makin kuat asam maka reaksi kesetimbangan asam makin condong ke
kanan, akibatnya Ka bertambah besar. Oleh karena itu, harga Ka merupakan
ukuran kekuatan asam, makin besar Ka makin kuat asam.
Berdasarkan persamaan di atas, karena pada asam lemah [H+] = [A–],
maka persamaan di atas dapat diubah menjadi:



KEKUATAN BASA
Kekuatan basa dipengaruhi oleh banyaknya ion – ion OH– yang dihasilkan oleh senyawa basa dalam larutannya. Berdasarkan banyak sedikitnya ion OH yang dihasilkan, larutan basa juga dibedakan menjadi dua macam sebagai berikut.

Basa Kuat
Basa kuat yaitu senyawa basa yang dalam larutannya terion seluruhnya menjadi ion-ionnya. Reaksi ionisasi basa kuat merupakan reaksi berkesudahan. Secara umum, ionisasi basa kuat dirumuskan sebagai berikut.
M(OH)x(aq) ⎯⎯→ Mx+(aq) + x OH–(aq)


dengan: x = valensi basa
M = konsentrasi basa

Basa Lemah
Basa lemah yaitu senyawa basa yang dalam larutannya hanya sedikit terionisasi menjadi ion-ionnya. Reaksi ionisasi basa lemah juga merupakan reaksi kesetimbangan. Secara umum, ionisasi basa lemah valensi satu dapat dirumuskan sebagai berikut.
M(OH)(aq) ←⎯⎯⎯⎯→ M+(aq) + OH–(aq)


Makin kuat basa maka reaksi kesetimbangan basa makin condong ke kanan, akibatnya Kb bertambah besar. Oleh karena itu, harga Kb merupakan ukuran kekuatan basa, makin besar Kb makin kuat basa. Berdasarkan persamaan di atas, karena pada basa lemah [M+] = [OH–], maka persamaan di atas dapat diubah menjadi:


DERAJAT KEASAMAN

Kesamaan suatu larutan disebabkan adanya ion H. konsentrasi ion hidronium [H] dalam lariutan encer umumnya sangat rendah, tetapi sangat menentukan sifat-sifat larutan, terutama larutan dalam air. Telah disebutkan bahwa pembawa sifat asam adalah ion H. Jadi, derajat tingkat keasaman larutan bergantung pada konsentrasi ion H dalam larutan. Semakin besar konsentrasi ion H maka semakin asam larutan.
pH = – log [H].

pH merupakan fungsi logaritma negatif dari konsentrasi ion Hdalam suau larutan. Jadi, pH suatu larutan menyatakan derajat atau tingkat keasaman suatu larutan.
Dengan analogi yang sama, untuk menentukan harga konsentrasi OH dapat digunakan rumus harga pOH.
pOH = – log [OH ] atau [OH ] = 10

larutan bersifat netral : [H] = [OH ] ; pH = 7
larutan bersifat asam : [H] > [OH ] ; pH < 7 larutan bersifat basa : [H] < [OH ] ; pH > 7

Hubungan Tingkat Keasaman Dengan Ph
pH sebagai parameter untuk menyatakan tingkat keasaman. Namun demikian, perlu diperhatikan bahwa tingkat keasaman berbanding terbalik dengan nilai pH. Artinya, semakin asam larutan, maka semakin kecil nilai pHnya, dan sebaliknya. Hal itu terjadi karena pH dan konsentrasi ion H di hubungkan dengan tanda negatif. Ssselanjutnya, karena bilangan dasar, logaritma adalah 10 maka larutan yang nilai pHnya berbeda sebesar n mempunyai perbedaan konsentrasi ion H sebesar 10.

Sumber

Diolah dari berbagai sumber.

Klik untuk mengomentari