Ketik sesuatu lalu tekan enter

author photo
By On
Waktu Zuhur dimulai dengan tergelincirnya matahari dari tengah langit dan bayang-bayang matahari pada musim panas berbentuk kencup, sehingga tidak ada bayang-bayang yang tegak lurus di siang hari dalam kondisi apapun. Apabila ada yang demikian, matahari telah tergelincir dan itu tanda berakhirnya waktu Zuhur, dimana bayang-bayang sebanding dengan bendanya. Apabila panjang bayang-bayang telah melampaui bentuk aslinya, waktu Zuhur telah berakhir dan masuk waktu Ashar, dimana tidak ada pemisah diantara keduanya.

Apabila terjadi kabut tebal, hendaklah ia memperhatikan matahari dan berhati-hati dari mengakhirkan waktu shalat, sebab boleh jadi waktu shalat Ashar telah masuk. Apabila ia ragu, maka ikutilah kemana akal pikiran lebih condong. Dengan begitu, shalatnya sah. Hal yang demikian itu karena waktunya cukup panjang sehingga ia dapat memastikan bahwa matahari telah tergelincir, baik mengetahui sendiri maupun diberitahu oleh orang yang dapat dipercaya. Apabila ia ragu dengan berita itu, ia harus mengulangi shalatnya. Sementara itu, apabila ia tidak mempercayai orang yang memberitahukan kepadanya bahwa ia telah mengerjakan shalat sebelum tergelincir matahari, ia tidak wajib mengulanginya. Akan tetapi untuk lebih berhati-hati, hendaknya ia mengulangi shalatnya.

Apabila seseorang buta, ia boleh mempercayai berita orang-orang yang dapat dipercaya mengenai waktu shalat dan boleh mengikuti orang-orang yang melakukan azan. Apabila seseorang berada di tempat yang gelap atau tidak mampu melihat dan tidak ada seorang pun yang berada di dekatnya, ia dapat shalat pada waktu yang ia kehendaki. Shalatnya dianggap mencukupi selama tidak ada keyakinan bahwa ia telah mengerjakan shalat sebelum waktunya.

Orang yang sudah yakin (dengan waktu shalat) boleh menyegerakan waktu Zuhur, baik statusnya sebagai imam ataupun sendirian. Kecuali, apabila kondisi cuaca sangat terik, imam boleh mengakhirkan shalat Zuhur sehingga orang-orang yang datang dari jauh bisa mengikuti shalat berjamaah.

Abu Hurairah Ra. Mengatakan bahwa Rasulullah Saw. Bersabda, “Apabila kondisi sangat panas menyengat, teguhkanlah shalat hingga dingin kembali, karena sesungguhnya terik panas itu adalah sengatan api neraka. Neraka pun mengadu kepada Tuhannya seraya berkata, ‘Sebagian aku melahap sebagian yang lain.’ Oleh sebab itu, Tuhan mengizinkannya memiliki dua napas, yaitu napas pada musim dingin dan napas pada musim panas. Dengan demikian, terik panas yang engkau dapatkan adalah hasil panas dari musim panas dan dingin yang menyengat adalah dingin yang berasal dari musim dingin.” (Riwayat Al-Bukhari dari Abu Hurairah)

Adapun yang dimaksud dengan mengakhirkan waktu shalat Zuhur bukanlah sampai pada akhir waktunya, melainkan ketika udara tidak terasa panas menyengat lagi. Dengan demikian, yang dimaksudkan adalah memperlambat shalat Zuhur. Ketika ia selesai shalat sebelum waktunya berakhir, ada pembatas antara selesai waktu mengerjakan shalat dan akhir waktu shalat.

Orang yang mengerjakan shalat Zuhur di rumahnya atau dengan jemaah di halaman rumahnya, hendaklah ia melaksanakan shalat Zuhur di awal waktu, karena hal itu tidaklah terlalu membuat mereka merasa kepanasan. Adapun pada musim dingin, shalat Zuhur tidak ditunda sebagaimana keadaannya.


Sumber

Dikutip tanpa pengubahan dari buku Dr. Asmaji Muchtar, Fatwa-Fatwa Imam Asy-Syafi'i - Masalah Ibadah,  Tahun 2014, Penerbit Amzah.

Hak cipta karya sepenuhnya ada pada penulis dan penerbit bersangkutan. Disini hanya sebatas mendokumentasikan dan mendiskusikan dengan harapan dapat menjadi input berharga bagi pihak-pihak terkait.

Klik untuk mengomentari