Ketik sesuatu lalu tekan enter

author photo
By On
Dalam riwayat dari Abu Hurairah Ra. ditegaskan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, "Janganlah seseorang diantara kamu mengerjakan shalat pada sehelai kain yang tidak ada sedikit pun (kain) pada bahunya."

Menurut Asy-Syafi'i, kemungkinan maksud dari hadis Rasulullah Saw. di atas adalah hendaknya seseorang jangan mengerjakan shalat dengan sehelai kain yang pada bahunya tidak ada kain sedikitpun. Hadis ini menunjukkan pilihan, bukan suatu keharusan, atau kemungkinan yang lain, yaitu bahwa sesuatu itu tidak memadai kecuali dengan hal itu.


Apabila aurat laki-laki sedikit tersingkap dalam shalatnya, begitu juga rambut perempuan, baik sedikit maupun banyak, selain wajah dan kedua telapak tangannya, serta bagian yang dekat dengan telapak tangannya, yaitu pergelangan tangan perempuan itu tersingkap, baik diketahui atau tidak; keduanya harus mengulangi shalatnya, kecuali tersingkapnya karena angun atau jatuh kemudian dikembalikan ke tempatnya semula dari jeda waktu yang tidak terlalu lama.

Apabila terdapat jeda waktu yang memungkinkan baginya mengembalikannya ke tempat semula, namun hal itu tidak dilakukannya; ia harus mengulang shalatnya. Demikian pula halnya dengan seorang perempuan.

Dalam riwayat Salmah bin Al-Akwa dijelaskan bahwa kami bertanya, "Wahai Rasulullah, kami telah berburu hewan. Bolehkah kami mengerjakan shalat dalam satu pakaian?" Rasulullah Saw. menjawab, "Ya boleh dan hendaklah ia memberinya kancing walaupun dengan duri, walau tidak mendapatkan kecuali menyambungnya dengan duri." (Riwayat An-Nasa'i daru Salman bin Al-Akwa)

Apabila baju kemeja itu tebal (tidak transparan), boleh shalat dengan kain itu. Akan tetapi, hendaknya memberi kancing atau membuat sesuatu untuk mengikatnya agar kemeja itu tidak renggang sehingga menyebabkan auratnya terlihat.

Apabila seseorang mengerjakan shalat dengan mengenakan pakaian yang tidak berkancing dan di atasnya ada serban, kain selendang, atau kain sarung untuk merapatkan kedua tepi baju sehingga mencegah dari terbukanya aurat atau mencegah terlihatnya aurat; shalatnya telah memadai.

Apabila seseorang shalat dengan pakaian sobek di bagian aurat meskipun sedikit, hendaknya jangan digunakan shalat. Apabila ia mengerjakan shalat dengan pakaian yang tipis, shalatnya tidak sah. Namun apabila ia shalat dengan pakaian yang sobek bukan pada bagian aurat dan tidak terlalu besar sobekannya, shalatnya sah. Apabila terlihat aurat, tidak boleh shalat dengan pakaian tersebut.

Sumber

Dikutip tanpa pengubahan dari buku Dr. Asmaji Muchtar, Fatwa-Fatwa Imam Asy-Syafi'i - Masalah Ibadah,  Tahun 2014, Penerbit Amzah.

Hak cipta karya sepenuhnya ada pada penulis dan penerbit bersangkutan. Disini hanya sebatas mendokumentasikan dan mendiskusikan dengan harapan dapat menjadi input berharga bagi pihak-pihak terkait.

Klik untuk mengomentari