Ketik sesuatu lalu tekan enter

author photo
By On
Imam Asy-Syafi'i dilahirkan pada tahun 150 Hijriah. Ia dilahirkan di desa Ghazzah, Asqalan, dari pasangan suami-istri Idris bin Abbas dan Fatimah binti Abdullah. Dari jalur ayah, nasab beliau bertemu dengan Abdu Manaf bin Qusayyi. Sementara dari jalur ibu, nasab beliau bertemu dengan Abdullah bin Hasan bin Husain bin Ali bin Abi Thalib.

Ketika berusia dua tahun, ibunya membawa Asy-Syafi'i pindah ke Hijaz, suatu tempat dimana sebagian besar penduduknya berasa dari Yaman. Ibunda Asy-Syafi'i sendiri berasal dari Azdiyah. Mereka menetap di kawasan itu. Ketika usia Asy-Syafi'i mencapai sepuluh tahun, ibundanya membawanya pindah ke Mekah. Perpindahan ini dilatarbelakangi oleh kekhawatiran bahwa ia akan melupakan nasabnya.

Sejak kecil, Asy-Syafi'i hidup dalam kemiskinan. Pada waktu beliau diserahkan ke bangku pendidikan, para pendidik tidak memperoleh upah. Akan tetapi, setiap kali seorang guru mengajarkan sesuatu kepada murid-murid, terlihat Asy-Syafi'i kecil mampu menangkap semua penjelasan gurunya. Setiap kali gurunya berdiri untuk meninggalkan tempat, Asy-Syafi'i kecil mengajarkan kembali apa yang ia pahami kepada anak-anak lain. Langkah yang dilakukan Asy-Syafi'i itu membawa berkah tersendiri, ia mendapatkan upah. Sesudah berusia tujuh tahun, Asy-Syafi'i telah berhasil menghafal Al-Qur'an dengan baik.

Imam Asy-Syafi'i bercerita tentang masa kecilnya, "Sewaktu aku mengkhatamkan Al-Qur'an dan memasuki masjid, kami duduk di majelis para ulama. Aku berhasil menghafal beberapa hadis dan beberapa masalah fiqih. Pada waktu itu, rumah kami berada di Mekah. Kondisi kehidupanku sangat miskin. Aku tidak memiliki uang untuk membeli kertas dan aku hanya memanfaatkan tulang-tulang untuk menulis."

Suatu ketika, Imam Al-Hakim menceritakan hadis yang diriwayatkan Bahr bin Nashr. Ia berkata, "Jika kami ingin menangis, kami mengatakan kepada sesama teman, 'Pergilah kepada Asy-Syafi'i. Ketika kami telah bertatap muka dengannya, ia membaca Al-Qur'an dan orang-orang yang ada di sekitarnya banyak yang pingsan karena histeris. Kami sangat kagum oleh keindahan dan kemerduan suaranya. Ia sangat memahami Al-Qur'an dan itu meninggalkan kesan yang mendalam bagi para pendengarnya."

Ada banyak guru (syaikh) terkemuka yang menjadi guru Asy-Syafi'i sewaktu muda. Mereka adalah :
1. Muslim bin Khalid Al-Zanji, seorang mufti Mekah pada tahun 180 Hijriah (796 M). Ia adalah maula Bani Makhzum;
2. Sufyan bin Uyainah Al-Hilali yang berada di Mekah, ia adalah salah seorang yang terkenal jujur dan adil;
3. Ibrahim bin Yahya, salah satu ulama di Madinah;
4. Malik bin Anas. Asy-Syafi'i hafal isi kitab Al-Muwaththa' dan membacakannya di depan Imam Malik. Beliau menetap di Madinah sampai Imam Malik wafat pada tahun 179 H;
5. Waki' bin Jarrah bin Malih Al-Kufi;
6. Hammad bin Usamah Al-Hasyimi Al-Kufi; dan
7.  Abdul Wahab bin Abdul Majid Al-Bashri.

Imam Asy-Syafi'i adalah orang yang mempunyai keistimewaan, ia mempunyai hafalan yang kuat, baik Al-Qur'an maupun hadis. Ia mempunyai pengetahuan yang mendalam mengenai perbedaan antara yang wajib dan yang sunnah serta mempunyai kecerdasan di berbagai disiplin ilmu yang tidak dimiliki oleh semua orang. Ia dapat membedakan antara sunnah yang shahih dan yang dha'if. Ia mempunyai pengetahuan yang mendalam di bidang ushul fiqh, mursal, maushul, serta perbedaan antara redaksi yang umum dan khusus.

Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan, "Kami tidak pernah melihat seseorang yang lebih pandai dalam bidang fiqh terhadap Al-Qur'an daripada pemuda Quraisy ini. Ia adalah Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i."

Dubaisan (Abu Dubais bin Ali Al-Qashbani) berkata, "Kami pernah bersama Ahmad bin Hanbal di masjid kota Baghdad yang dibangun oleh Al-Mansyur. Lalu kami datang menemui Karabisy dan bertanya, 'Bagaimana menurutmu tentang Asy-Syafi'i?' Ia menjawab, 'Sebagaimana apa yang kami katakan bahwa ia memulai dengan Al-Kitab (Al-Qur'an), sunnah, serta ijma para ulama.' Kami orang-orang terdahulu semelum ia tidak mengetahui apa itu Al-Qur'an dan sunnah, sehingga kami mendengar dari Imam Asy-Syafi'i tentang apa itu Al-Qur'an, sunnah dan ijma."

Humaidi berkata, "Suatu ketika kami ingin mengadakan perdebatan dengan kelompok rasionalis. Akan tetapi, kami tidak mengetahui bagaimana cara mengalahkan mereka. Kemudian Imam Asy-Syafi'i datang, sehingga kami dapat memenangkan perdebatan itu."

Ibnu Rahawaih pernah ditanya, bagaimana pendapatmu, bagaimanakah Imam Asy-Syafi'i dapat menguasai Al-Qur'an dalam usia yang masih relatif muda? Lalu ua menjawab, "Allah Swt. mempercepat akal pikirannya lantaran usianya yang pendek."

Rabi' berkata, "Kami pernah duduk bersama di majelis Imam Asy-Syafi'i setelah beliau meninggal dunia di Basir. Tiba-tiba datang kepada kami orang A'rabi (badui). Ia mengucapkan salam lalu bertanya, 'Dimanakah bulan dan matahari majelis ini?' Lalu kami menjawab, 'Beliau telah wafat'. Tiba-tiba ia menangis dan berkata, 'Semoga Allah Swt. mencurahkan rahmat dan mengampuni semua dosanya. Sungguh beliau telah membuka hijjah yang selama ini tertutup, telah mengubah wajah orang-orang yang ingkar, membuka kedok mereka, dan juga telah membuka pintu kebodohan dengan memberikan penjelasan.' Lalu tidak beberapa lama orang badui itu pergi."

Pada tahun 199 Hijriah (814/815 Masehi), Imam Asy-Syafi'i berhijrah ke Mesir. Sampai di Mesir, Asy-Syafi'i kembali ke Baghdad selama satu bulan. Setelah itu, Asy-Syafi'i kembali lagi ke Mesir hingga akhir hayatnya pada tahun 204 Hijriah (819/820 Masehi).

Terdapat banyak kitab hasil karya Imam Asy-Syafi'i, yaitu:
1. Ar-Risalah Al-Qadimah (kitab Al-Hujjah);
2. Ar-Risalah Al-Jadidah;
3. Ikhtilaf Al-Hadits;
4. Ibthal Al-Istihsan;
5. Ahkam Al-Qur'an;
6. Bayadh Al-Fardh;
7. Sifah Al-Amr wa An-Nahi;
8. Ikhtilaf Al-Malik wa Asy-Syafi'i;
9. Ikhtilaf Al-Iraqiyin;
10. Ikhtilaf Muhammad ibn Husain;
11. Fadha'il Al-Quraisy;
12. Al-Umm;
13. As-Sunan.

Menjelang akhir hayatnya, Imam Asy-Syafi'i menderita penyakit ambeien. Asy-Syafi'i wafat di Mesir pada malam Jumat sesudah shalat Magrib, tepatnya di hari terakhir bulan Rajab. Beliau dimakamkan pada hari Jumat pada tahun 204 Hijriah (819/820 Masehi). Makamnya berada di kota Kairo, Mesir.

Sumber

Dikutip tanpa pengubahan dari buku Dr. Asmaji Muchtar, Fatwa-Fatwa Imam Asy-Syafi'i - Masalah Ibadah,  Tahun 2014, Penerbit Amzah.

Hak cipta karya sepenuhnya ada pada penulis dan penerbit bersangkutan. Disini hanya sebatas mendokumentasikan dan mendiskusikan dengan harapan dapat menjadi input berharga bagi pihak-pihak terkait.

Klik untuk mengomentari